Sehat Mental Hadapi COVID-19

Halo, teman-teman…
Apa kabar, semoga kalian dalam kondisi sehat ya…
Sudah lama tidak meng-update kembali isi dari blog ini. Jujur, kemarin aku agak sibuk sama pemberitaan corona yang beredar di masyarakat. Apalagi aku tinggal di salah satu kabupaten di eks karesidenan Solo Raya. Kalian pasti tahu kan Solo menjadi salah satu kota yang tedampak virus ini. Jujur, pas pertama denger itu, aku rasanya kaget banget. Nggak nyangka kalau bakalan secepat itu penyebarannya. Mengingat Solo ini menurutku slow banget movement masyarakatnya. Nggak kayak Jakarta yang udah ramai, penuh dan semua orang serba terburu-buru setiap harinya. Bahkan, berita Solo ada yang positif corona ini pun aku dapat dari teman-teman di Jakarta.


Jadi, waktu itu aku lagi rebahan malam gitu kan. Buka grup WhatsApp anak kampus, kok kelihatan berisik banget sih. Pada bahas apa toh? Aku iseng buka grup gitu. Eh, di dalam grup, teman-temanku sedang membahas tentang berita di Solo ada sau orang yang meninggal dunia dan positif corona. Aku shock banget, nggak nyangka. Takut kalau itu berita hoax, aku mencoba membuka site portal berita terpercaya gitu. Terus jawaban yang kuperoleh emang itu berita bener.
Status WhatsApp di contact-ku yang banyak orang karesidenan Surakarta pun mulai penuh dengan pemberitaan corona. Aku mulai nanya ini itu ke temen-temenku di WhatsApp, ya gimana ya, seminggu kemarin aku bolak-balik Solo-rumah, terus ada satu hari yang mana aku pakai kendaraan umum buat berangkat ke Solo. Ya, sebenarnya kemarin pas berangkat Solo itu aku udah menjalankan prosedur yang diajarkan sama temen-temen tenaga medis untuk cuci tangan pakai sabun, bawa hand sanitizer, dan menjalankan etika batuk serta bersin. Tapi tetap saja ya, khawatir itu muncul. Apalagi pas hari itu aku pilek.


Besok pagi, sewaktu aku membuka smartphone, udah ramai pemberitaan mengenai himbauan Wali Kota Solo juga Gubernur Jawa Tengah mengenai anak-anak diliburkan sekolahnya, beberapa kegiatan yang mengumpulkan orang banyak di satu tempat seperti kajian, CFD, arisan dan segala macamnya diminta untuk ditiadakan. Selain itu, beraneka macam kabar entah benar tidak mulai bermunculan di grup WhatsApp, gimana rasanya ngebaca semua itu. Pening. Khawatir. Cemas. Well, kalau teman-teman ngerasain semua itu, aku bilang, “Sama. Aku juga.”

Nah berikut aku bagi sedikit tips yang aku jalanin, berbekal panduan dari WHO untuk tetap sehat mental di tengah persebaran virus corona ini ya…


Sadari perasaan khawatir dan cemasmu


Yap, pertama yang wajib banget kita pahami dan lakukan adalah sadari perasaan khawatir dan cemas yang muncul dalam diri kita. Ini sebuah perasaan yang wajar. Wajar jika kita khawatir terkena virus ini dan menularkan ke orang lain. Wajar jika kita cemas dengan segala macam perubahan aktivitas ekonomi yang bakalan ngaruh dengan kemampuan kita untuk survive di muka bumi. Yang membuatnya tidak wajar adalah ketika kita khawatir dan cemas berlebih. Coba ajak bicara teman atau anggota keluarga untuk sedikit meredakan dan mengalihkan kecemasan.


Kurangi aktivitas membaca tentang corona di social media


Cobalah untuk mengurangi aktivitas kita membaca pemberitaan tentang corona di social media. Alokasikan waktu, misal 30 menit dalam sehari untuk membuka akun sosial media kita. Jika memang harus membaca beberapa informasi yang belum tentu akurat mengenai pemberitaan di social media, bekali diri dengan membaca situs yang terpercaya mengenai penangangan corona. Kalau aku pakai situsnya WHO dan situs tanggap corona provinsi Jateng. Di situs WHO ini dijelasin dengan detail mengenai virus corona atau COVID-19, pertanyaan yang sering diajukan, juga mitos yang banyak beredar. Sedangkan kalau situs tanggap corona di Jateng, aku pakai buat memastikan jumlah pasien positif corona yang sebenarnya dan buat melihat peta pergerakan corona di sekitar daerahku seperti apa.


Jaga kesehatan ketika harus stay at home

dirumahaja alias stay at home tidak berarti kita berhenti menjaga kesehatan. Tetap berlatih alias berolahraga ringan, cukup tidur, minum air putih dan makan makanan bergizi. Makanan bergizi itu nggak mesti mahal loh, yang penting mencukupi gizi seimbang kita. Oh ya, walaupun ada kebutuhan makanan yang mesti kita penuhi selama di rumah aja, nggak perlu menimbun bahan makanan pokok juga ya.

Hindari rokok, alcohol dan obat-obatan untuk pengalihan emosi negatif


Alihkan emosi negatif yang kita punya pada bentuk yang lain ya, berolahraga, membaca buku, atau mari kita lakukan untuk mengembangkan skill bermusik, menggambar, menulis cerita dan berbagai macam kegiatan menarik lain yang bisa dilakukan dari rumah.


Ini dulu ya yang bisa kutulis tentang tetap sehat mental menghadapi wabah pandemik corona. Semoga kita bisa menghadapi badai ini bersama dan menyongsong banyak bahagia ketika sudah berhasil melewatinya…

Oh ya, aku juga melampirkan infografis dari WHO tentang bagaimana mengelola stress menghadapi COVID-19. Semoga bermanfaat


Cheers!

sumber gambar: website WHO

Pentingnya Kesehatan Mental

Selamat datang di postingan pertamaku sesudah postingan pembuka. Hehehe…


Kali ini aku mau menulis tentang kesehatan mental yang belakangan ini memang sedang ramai diperbincangkan. Aku menulis ini bukan soal tren semata sih. Memang benar, banyak banget kasus bunuh diri yang sering kita baca, dengar atau lihat di berita. Enggak cuma artis-artis Korea saja. Di negeri sendiri pun juga ada kasus bunuh diri semacam ini. Sedih banget kan kalau nonton pemberitaan semacam itu. Kita yang nggak ngalamin aja berasa sedihnya, apalagi yang mengalami sendiri dalam kasus bunuh diri tersebut.

Belakangan ini bisa dilihat kalau isu kesehatan mental makin gencar banget diangkat. Film-film yang ngangkat tentang kesehatan mental mulai bisa kita saksikan di layar-layar bioskop. Memang sih urusan kayak begini tuh nggak main-main kok. Nggak cuma ada di film. Ini benar adanya.
Nah kali ini, aku mau bahas dulu deh.
Sebenarnya apa sih kesehatan mental itu?
Di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat, men sana in corpore sano. Sering denger nggak sih pepatah bijak ini. Selama ini kalau mendengar kata sehat disebut gitu, aku mikirnya perkara sehat fisik semata. Enggak pusing, enggak pilek, enggak demam atau sakit perut atau sakit-sakit berat lainnya. Pun juga pas perkara izin kerja, pasti kan tiap kali diizinin nggak masuk kerja dipastikan karena sakit fisik. Padahal ada sakit lain yang tak terlihat namun mengganggu produktivitas. Yap bener sakit mental,cuy….

Kalau mengutip definisinya M.Jahoda, seorang pelopor kesehatan mental menjelaskan bahwa, kesehatan mental itu sendiri adalah sebuah pentuk penyesuaian diri seseorang secara aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri.


Gampangnya gini deh, orang yang sehat mental itu adalah orang yang memiliki kondisi batin yang tentram dan tenang sehingga bisa menikmati hari dengan baik dan menghargai lingkungan sekitar. Kalau bisa menghargai lingkungan sekitar bisa menikmati hari dengan baik, beraktivitas lancar, hidup lebih produktif lah yaaaa….


Emang ciri-cirinya gimana sih?


Emang ciri-ciri mental kita nggak sehat ini gimana? Gangguan kesehatan mental itu bermacam-macam. Well, aku nggak bisa sih mendiagnosa apakah seseorang terkena gangguan kesehatan mental. Ini bukan perkara main-main sih, hanya tenaga professional yang berhak menegakkan diagnosa. Kenapa? Karena mereka punya ilmu untuk melakukan prosedur pemeriksaan dan menentukan sebenarnya seseorang ini memiliki gangguan kesehatan mental atau tidak. Kalau misal iya, gangguan kesehatan mentalnya apa juga perlu pemeriksaan lebih lanjut. Nah, mending nanti aku bahas aja deh kapan sebaiknya kita ke tenaga professional saja. Soalnya enggak semua perasaan sedih itu bermakna depresi loh. Nggak semua cemas yang kita punya adalah gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Jadi jangan mudah mendiagnosa diri terkena gangguan mental tertentu hanya karena baca-baca google aja tanpa pemeriksaan tenaga professional ya.


Apa yang bakalan terjadi kalau mental kita nggak sehat dan nggak tertangani dengan baik?


Jadi nggak produktif itu salah satunya. Jujur, aku sendiri pernah mengalami. Dulu, aku punya phobia terhadap ayam. Sepele ya, sama ayam aja aku takut. Kalau lihat ayam gitu aku lari, menghindar. Pas adikku pelihara ayam partai, hmmm…anak ayam kecil-kecil yang dicat warna-warni itu lo, aku langsung nggak setuju. Tapi adikku ngotot, dia pokoknya mau pelihara ayam-ayam itu. Nah, ternyata pas gedhe-nya ayam ini galak bukan main dan hobi mematuk orang. Pada suatu hari si ayam ini lepas dari kandang, ngejar-ngejar adikku buat dipatuk. Adikku nangis lari ke dapur. Aku malah lari ke kamar mandi. Kuncian di dalam sambil teriak-teriak minta tolong. Hahaha…..


Nah, moment nggak produktif itu terjadi ketika aku kuliah dan pindah kost. Samping kost-ku tuh ada tanah kosong. Pada suatu hari dipakai Ibu kostku buat pelihara kalkun. Pas ke kamar mandi, aku lihat kalkun-kalkun itu dari balik lubang ventilasi.Ya kan kalkun masih sebangsa dengan ayam kan, lebih mengerikan lagi aku kalau ngelihatnya, soalnya lebih gedhe. Aku langsung lari dong, nggak jadi mandi. Habis itu aku takut banget tiap mau mandi. Takut kalkun yang ada di pekarangan kosong sebelah kamar mandi tadi. Padahal kan aku perlu mandi kan ya, apalagi kalau mau pergi kemana-mana. Ya Allah, aku ngerasa terganggu banget waktu itu. Akhirnya aku ngobrol sama temenku yang ngambil studi psikologi. Pas itu, aku disarankan buat datang ke puskesmas dan cari pertolongan ke psikolog yang praktik di sana. Yaudah deh…aku akhirnya memeriksakan diri, dicari tahu akar masalahnya apa, konseling dan diterapi gitu sama psikolog yang ada di puskesmas tersebut.


Hal lainnya yang bisa terjadi kalau kita memiliki gangguan kesehatan mental yang nggak tertangani adalah bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sering lihat kan kasus orang yang melukai diri sendiri atau bahkan berujung percobaan bunuh diri. Ada juga malah yang berefek mencelakakan orang lain. Pernah baca berita Ibu yang membunuh bayinya karena post partum depression? Nah, itu juga salah satu efek dari kurang tertanganinya gangguan kesehatan mental yang kita punya, loh.


Kapan sih sebaiknya kita mencari pertolongan?

Yap, kalau dirasa dalam diri kita ada gangguan yang bikin segala sesuatunya jadi tidak berjalan normal. Sedih berkepanjangan, tidak bisa tidur, tidak bisa mengendalikan keinginan untuk makan secara berlebih atau sebaliknya justru enggak nafsu makan, merasa letih, adanya keinginan untuk menyakiti diri sendiri dan lain sebagainya, it’s okey loh untuk minta tolong. Kalian bisa mencoba menghubungi tenaga kesehatan mental terdekat buat minta pertolongan.


Kenapa harus ke tenaga kesehatan mental? Kan bisa tuh curhat sama temen?


Well, kalau dalam pengalamanku sih jatuhnya beda ya, antara curhat sama temen dan cerita sama psikolog atau tenaga kesehatan mental lainnya. Teman itu masih punya sisi judgemental terhadap masalah kita, kadang juga malah kita ceritain apa responnya malah bikin kita makin kacau ngadepin permasalahan. Wajar sih, karena teman kita kan juga belum tentu mempelajari ilmunya juga kan. Nah, kalau aku mah prinsipnya serahkan sama ahlinya saja. Tenaga kesehatan ini juga memiliki kode etik sih, mereka juga nggak bisa membuka data dan segala macam rahasia kita ke public. Beda ya kalau kita cerita sama temen, kadang kan ada aja yang bocor diceritakan ke orang lain. Ye kan ye kan ye kan….


Lalu di mana bisa ketemu sama tenaga kesehatan mental ini?


Nah, enggak usah bingung. Sekarang makin mudah kok nyari psikolog atau psikiater. Di beberapa provinsi sudah ada tuh yang bikin kebijakan adanya psikolog sampai level Puskesmas. Jadi tinggal datang aja ke Puskesmas. Biayanya murah sih, bahkan kalau pakai BPJS sih kayaknya gratis. Aku soalnya bukan pengguna BPJS, jadi teman-teman pengguna BPJS bisa coba buka situs BPJS apakah layanan tersebut ditanggung secara gratis atau tidak. Toh, kalaupun nggak pakai BPJS biaya konseling di Puskesmas itu murah banget. Masalahnya ya apakah provinsi atau kabupaten di mana teman-teman tinggal sudah menerapkan kebijakan adanya layanan bantuan kesehatan mental sampai tingkat kecamatan atau belum.
Kayak di Wonogiri misalnya, aku baru bisa dapat layanan ini di level rumah sakit umum daerah sih. Sekali konseling tanpa BPJS biayanya Rp 40.000,00 per jam. Hayo dong Pak Bupati zheyenk sebar psikolog sampai kecamatan biar aku kalau mau curhat makin gampang. Hahahha…
Oh ya, sebenarnya juga ada layanan online sih. Ada beberapa aplikasi kesehatan yang membuka layanan untuk konseling dengan psikolog secara online. Nggak apa loh, kalau memang darurat banget. Aku sendiri belum pernah nyobain. Pilih bela-belain ke Rumah Sakit. Anaknya konservatif, kalau curhat suka yang sambil tatap muka. Hahahaha….

Nah, itu dulu ya cerita aku tentang kesehatan mental hari ini.


Selamat berjumpa di cerita selanjutnya.

Kutunggu cerita kalian di boks komentar ya….

Cheers!!